Masuknya Komunisme ke Indonesia
SEBENARNYA sejumblah pemimpin Indonesia telah bersentuhan dengan sebuah partai sosialis yang berkembang di negeri kincir angin. Partai ini tertarik pada persoalan rakyat Indonesia serta menantang perluasan kekuasaan di Hindia Belanda. Partai tersebut adalah Partai Pekerja Sosial Demokrasi atau SDAP (Social Democratishe Arbeider Partij) yang didirikan di Amsterdam pada 1918, SDAP di negeri Belanda berubah menjadi Partai Komunis Belanda dan menimbulkan niat yang sama di kalangan ISDV. Jadi, dalam kongres ketujuh mei 1920, terbentuklah Perserikatan Komunis di Hindia (PKH) dengan Semaoen sebagai ketuanya. Dengan demikian, organisasi ini melibatkan diri pada Comintern yang berpusat di Moskow.
Henk Sneevliet, H.M. Dekker, bersama dengan Brandsteder mendirikan Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) pada mei 1914. ISDV menyelenggarkan kongresnya yang pertama pada 1915. Pada waktu itu jelas tampak dua aliran revolusioner. Pertama, di bawah pimpinan Schoutman. Schoutman berpendapat bahwa sosialisme belum saatnya disebar di kalangan perkumpulan-perkumpulan di Indonesia. Kalau disebarkan sekarang, malah akan menimbulkan pemberontakan karena mereka belum matang. Sekarang sosialisme hanya disebarkan ke tengah-tengah study club saja; tapi Sneevliet menentang pendapat ini. Ia bertanya kepada Semaoen di kongres, orang Indonesia satu-satunya, yang menjawab bahwa orang Indonesia sudah sadar menjawab bahwa orang Indonesia sudah sadar karena mereka membayar pajak. Mereka selalu bertanya 'untuk apa membayar pajak' dan pertanyaan berbau sosialisme lainnya ke tengah-tengah orang Indonesia. Jika Indonesia sudah memberontak, itu tanda 'kami sudah marah', karena itu, sidang kongres gempar. Sebagian anggota kongres dari Belanda tidak menyokong Sneevliet: mereka keluar satu persatu. (Soe Hok Gie. Di bawah Lentera Merah. Yogyakarta: Bentang Budaya, 1999, hlm, 73-74)
Kontaknya yang erat dengan ketua SI Semarang, Semaoen, memberikan kesempatan baginya untuk berceramah dalam kursus-kursus kader sehingga ISDV banyak memperoleh pengikut SI--menciptakan keanggotan ganda. Banyak anggota menyeludup ke tubuh SI merangkap menjadi anggota ISDV, bahkan orang-orang seperti Semaoen, Darsono, Alimin, Prawirodirjo, dan Tan Malaka adalah tokoh sekaligus pemimpin kedua organisasi yang berlainan paham itu. (M. Dawan Raharjo. Islam mendayung di Antara Dua Karang: Sosialiasi dan Kapitalisme.) Infiltrasi hingga ke dalam cabang-cabang SI tersebut untuk memperoleh dukungan dari massa Indonesia.
Sneevliet ditahan oleh Pemerintah Hindia Belanda dan dipaksa meninggalkan Indonesia pada meninggalkan Indonesia pasa Desember 1918. Akan tetapi, ini tidak mengurangi penyusupan anggota-anggota ISDV berkebangsaan Indonesia kepemimpinan di cabang-cabangb SI untuk menguasainya kongres SI keempat yang berlangsung pada 1914. Pada waktu itu, seluruh anggota SI sudah hampir mencapai dua setengah juta. Semaoen, bersama pemimpin-pemimpin ISDV lainnya, berusaha memasukkan organisasi ke dalam partai komunis di Hindia Belanda atau umumnya dikenal sebagi PKI. Dalam partai baru yang dibentuk di kantor SI Semarang pada 23 mei 1920. Semaoen sebagai ketua Darsono sebagai wakil ketua, Bergsma sebagai sekertaris, dan H.M Dekker sebagai bendahara. (George McTurnain Kahin. Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia.)
Sebelum mendirikan ISDV, Sneevliet yang datang ke Jawa pada 1913 bekerja sebagai pimpinan redaksi harian Soerabajasch Handelshlad selama 2 bulan. Kemudian ia menjabat sebagai Sekertaris Semarangse Handelsvereniging (Kamar Dagang Semarang). Ia juga bergabung dengan Vereriging van Spoor-en Tramwegpersonnel (VSTP) atau perhimpunan Buruh Kereta Api dan Trem yang merupakan organinasi buruh terbesar pertama di Indonesia menjadi radikal. Melalui majalah Het Vrie Woord, paham sosialisme mulai disebarkan. Tetapi ternyata orang-orang Indonesia mengganggap itu sebagai organisasi bangsa asing.
Ada keinginan untuk menyebarkan ide-ide sosial-demokrat ke lingkungan kaum pergerakan rakyat. Akan tetapi, penyebaran ide-ide sosial demokrat dan praktik politik mereka--kemudian dikenal sebagai sosialisme revolusiner--tetap terbatas dan tidak menimbulkan dampak yang luas. Ada dua hal yang keliatannya menjadi penyebab keterbatasan dan kegagalan. Pertama, meskipun Sneevliet maupun Baars siap untuk mengadopsi hal-hal yang sedang berlangsung dan berlalu dalam dunia pergerakan, namun mereka tidak dapat sepenuhnya diterima. Dunia pergerakan dunia ksatria, pelajar berlatarbelakang Jawa. Kedua, adanya kesulitan untuk mengespresikan dan menyampaikan ide-ide sosialisme revolusioner, serta menjelaskan atau memberikan pendapat mengenai paham sosialis kepada kaum pegerakan rakyat; tetapi tidak ada keterbatasan seperti Semaoen. Namun, ada satu hal yang sempat menahannya untuk sepenuhnya diterima ke dalam pegerakan; dia bukan keturunan priyayi maupun orang Belanda. (Soewarsono. Berbarengan Bergerak: Sepenggal Riwayat dan Pemikiran Semaoen.)
Partai baru tersebut mengembangkan hubungan akrab dengan Comintern dan Bergabung dengan organisasi itu pada akhir 1920, Sneevliet yang sudah mengangkat dirinya sendiri menjadi wakil Indonesia di kongres Comintern kedua pada 1920, membentuk hubungan dengan PKI lewat Shanghai. Dharsono mewakili Indonesia dalam kongres Comintern ketiga di Moskow pada tahun 1921. Tan Malaka mewakili Indonesia dalam kongres Comintern keempat pada tahun berikutnya dan memainkan peran aktif dalam membuat kerangka kebijakan Comintern.
Pada Agustus 1923, Semaoen ditawan dan dipaksakan untuk memilih meninggalkan negeri itu atau dipenjarakan di Toor. Menjelang akhir tahun, semua pimpinan Belanda yang ada di partai itu juga dipaksa pergi. Menurut Semaoen, justru karena sudah ada kecurigaan terhadap orang Belanda, bahkan terhadap mereka yang menunjukan sikap menentang kekuasaan kolonialisme. Perginya pimpinan Belanda dari partai itu meningkatkan gengsi partai itu di mata khalayak ramai.
Golongan komunis yang telah merembet masuk ke dalam banyak cabang memutuskan mendirikan SI 'merah' untuk bersaing dengan pimpinan pusat yang lama, di bawah pimpinan Tjokroaminoto, dengan maksud agar berhasil menguasai cabang-cabang SI pada kongres yang dilaksanakan 25 Desember 1921 di Semarang.
Perebutan kekuasaan dan makin kuatnya pengaruh dalam cabang-cabang SI setempat, membuat para pemimpinnya berusaha memperluas disiplin partai ke dalam semua cabang organisasi tersebut pada Februari 1923.
Golongan komunis memutuskan untuk membantu seksi-seksi SI 'merah' di salah satu cabang SI sebagai pembalasan pada kongres yang diadakan Maret dan berusaha menarik anggota-anggota cabang tersebut. Unit-unit yang dikuasai komunis ini sekarang berganti nama menjadi Sarekat Rakyat (SR) dan diakui sebagai dasar partai komunis dalam masyarakat.
Kongres Comintern kelima pada 1924 menekankan bahwa prioritas utama tujuan partai-partai komunis adalah mengusai persatuan dagang.
Sehubung dengan itu, pada rapat Desember 1924, Ali Rachman (Sekertaris PKI) mengajukan suatu revoksi yang menginginkan agar SR bubar dan diganti dengan persatun dagang PKI. Ia berpendapat bahwa SR terdiri dari begitu banyak nasionalis borjouis yang tidak dapat diikutsertakan pada saat terjadi tindak kekerasan. Pendapat ini diserang keras, tapi tercapai suatu penyelesaian yang kompromi. Pembubaran SR pada prinsipnya dapat diterima, tetapi proses pembubaranny harus dilaksanakan bertahap agar tidak memperlemah PKI. Sambil melepas SR, komunis memusatkan kekuatan-kekuatan pada pergerakan persatuan dagang. Di samping itu, ada persetujuan agar kader-kader PKI harus disiplin dan ditingkatkan mutunya sehingga mampu mengadakan aksi revolusioner secara efektif. Akhirnya, program yang digariskan menuntut pembentukan Republik Soviet Indonesia. (George McTurnain Kahin)
ntappp
BalasHapus