Surga yang Diperjualbelikan Layaknya di Pasar Tradisional

SIANG HARI, setelah semalam menerabas badai di danau Titicaca yang begitu beku. 

Ernesto dan Calica memutuskan untuk mengunjungi sebuah gereja yang terkenal akan Perawan Copacabananya dan relief penting lainnya. Di pintu gereja ada seorang lelaki buta memainkan musik khas dataran tinggi bernada sedih dengan biola satu senar untuk sekumpulan penderita lepra, pengemis, dan orang-orang sakit (itu adalah sebuah tempat ziarah bagi siapa saja). 

Ketika masuk ke dalam, Ernesto dan Calica menyaksikan suatu pemandangan paling menakjubkan yang pernah mereka lihat sepanjang perjalanan; ada seorang pendeta gemuk berjubah, dengan gulungan uang terjepit di sela jari-jari tangannya seolah-olah sedang mengarahkan sebuah permainan. la menerima satu per satu orang-orang Indian yang berbaris demi mendapatkan berkatnya, rela menunggu dalam antrean yang sangat panjang. Pendeta itu akan melontarkan beberapa kata dalam bahasa Quecua atau Aimara dan para Indian akan mengulurkan uang yang dengan sangat cekatan ia tempatkan di sela-sela jari tangannya. 

Ini adalah pemandangan yang memancing tawa namun juga menjijikkan mengingat surealisme yang dikandungnya. Ernesto mencoba bertanya pada orang Indian itu tentang apa yang sedang terjadi. Waktu kembali ia bilang kepada ke Calica,    "Pendeta itu menjual tanah di surga pada mereka. Mereka akan mendapat tanah berdasarkan besar uang yang mereka keluarkan. Sebagian tanah surga lebih baik daripada sebagian tanah yang lain." Sungguh tak dapat diipercaya, bahkan terjadi tawar-menawar ketika mereka bertengkar soal harga. 

Para Indian akan mengancam untuk meninggalkan tempat sampai pendeta itu memanggilnya kembali hingga terjadi kesepakatan harga. 


Sumber:

Becoming Che, Carlos Calica Ferrer


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ayam Hutan Merah: Ayam Pemalu yang Kini Ada di Sekitar Kita

Tiga Manusia Terdekat Kita