Kekelalan adalah Chaos
Dimas & Reuben
Dimas yang pegal-pegal punggung akhirnya bangkit dari kursi kerjanya. Diambilnya back roller dan sibuklah ia meregangkan badan dengan per besar itu.
Reuben mengamati kegiatan pasangannya. Tercenung.
"Apa liat-lihat?"
"Kamu tahu apa yang dikatakan Einsten tentang waktu?"
"Waktu juga merengangkan punggung?" cetus Dimas asal.
"Ya."
"Ha?"
"Waktu bukan cuma bisa dipahami lewat detik jam. Memangnya apa itu detik? Apa itu jam? Apa itu hari? Sekedar istilah buat dikotomi langit terang dan langit gelap, kan?"
"Jangan sok dekonstruktif. Memangnya kamu bisa bayangkan, apa jadinya dunia ini kalau nggak ada detik dan jam?"
"Pikir sana sendiri! Kamu yang nanya, kok, aku yang disuruh jawab."
"Itu pertanyaan retoris, you silly."
"Whatever."
"24 jam, 365 hari, itu cuma satuan. Bagian dari sistem kalender yang bukan cuma satu di dunia. Tapi, coba kita lebih akrab sedikit dengan waktu, bukan cuma lihat sisi mekanisnya, melainkan dari sisi yang lebih pribadi. Kalau kata Einstein, waktu itu seperti karet. Elastis. Contohnya, di rumah orangtuamu, sedetik rasanya satu eon buatku. Tapi, di Barnes & Noble, rasanya kalau perlu bumi nggak usah berputar," Reuben menjelaskan.
"Selain menghina orangtuaku, poin apa lagi yang kamu ingin sampaikan, heh?"
"Oke, oke. Ada tiga perspektif di sini." Reuben menggosokan tangannya bersemangat. "Pertama, waktu yang mekanis, tik-tok-tik-tok jam di dinding. Kedua, waktu yang relatif--"
"Waktu di rumah orangtuaku dan waktu yang di Barnes & Noble," potong Dimas mangkel.
"Pintar. Dan, waktu yang ketiga, waktu ilusif. Bertolak dari premis bahwa sesungguhnya waktu tak ada."
"Lalu hubungannnya dengan back roller ini?"
"Lebih dari sekadar per yang menyusut dan meregang. Per-per itu bahkan tidak ada."
"Jadi, kemarin adalah iusi, tahun lalu cuma ilusi, hari ini juga ilusi?"
"Otak kita adalah generator bipolar. Setiap input yang masuk langsung terbagi ke dua jalur. Jalur pertama, diterima oleh cortex, yang fungsinya menerjemahkan stimulus ke dalam siklus atraktor yang terbatas, atau disederhanakan sedemikian rupa sehingga jadi informasi yang terkategori, entah itu bau, rasa, dan sebagainya. Dengan kata lain, cortex mengorganisasi chaos. Sementara jalur kedua, input ditampung oleh semacam generator acak. Input di situ bersifat nonspesifik, tidak terstruktur. Atau saking kompleksnya, tidak ada informasi yang bisa diterjemahkan. Matti Bergstrom, ilmuwan Finlandia yang meneliti masalah ini, bilang bahwa generator acak itu bisa kita rasakan waktu kita benar-benar baru bangun tidur. Kosong dan nggak ingat apa-apa, sampai akhirnya cortex kembali membanjiri kita dengan informasi. Mengingatkan namamu siapa, sejarah hidupmu bagaimana, hartamu apa saja, pacarmu yang mana.*
"Ya. Aku ingat saat kosong itu. Begitu cepat. Mungkin kurang dari sedetik," sela Dimas.
"Waktu adalah konsep hasil terjemahannya cortex. Dan, ingat otak kita melakukannya di bawah sadar, semacam servis cuma-cuma, karena kita nggak bakalan sanggup mengerti chaos yang sebenarnya."
"Yaitu?
"Kekekalan. Kekekalan adalah chaos, Dimas. Dan, cortex menerjemahkannya menjadi masa lalu, masa sekarang, dan masa depan."
"Tapi, untuk apa?"
"Untuk apa?" tawa Reuben menyembur.
"Agar kita tahu apa rasanya tumbuh, berkembang. Berevolusi. Mati dan hidup tak lebih dari sekadar gerbang pengalaman. Kita memilih mengalami keduanya dari detik pertama kita jadi embrio. Ingat, yang penting bukan dua ujung itu, melainkan proses di tengahnya. Dalam hidup ini, fisik kita pun melalui berbagai suksesi ritme; tubuh yang tumbuh, sel yang terus berganti. Dan, ritme suksesi yang sama juga berlaku untuk seluruh penghuni alam raya ini. Waktu merupakan catatan penunjang dari suksesi alam."
"Tapi, lucunya, konsep waktu dimunculkan manusia di level pikirannya. Bukan fisik. Sel sendiri nggak kenal konsep waktu kan? la cuma memperbarui diri, terus-menerus, tanpa ada sangkut pautnya dengan hitungan sekon. Manusia sendirilah yang mengadakan waktu linear dan setuju untuk mengikutinya."
"Bingo! Konsep waktu lahir dari keinginan fundamental manusia untuk punya kendali atas hidup, termasuk mengendalikan dirinya sendiri. Masa sekarang, masa lalu, dan masa depan sesungguhnya hanya satu gerakan tunggal. Kekekalan"
Sumber:
KPBJ, Dee Lestari
Komentar
Posting Komentar