Penolakan 28 April Menjadi Hari Sastra
PADA tahun 1965, komisaris dewan mahasiswa sebuah fakultas sastra menyatakan bahwa gagasan kepenyairan Chairil Anwar bertentangan dengan faham Sosialisme Indonesia dan Amanat Berdikari yang digariskan Bung Karno; pernyataan itu kemudian dibenarkan oleh pimpinan fakultas yang bersangkutan, bahkan kemudian menolak tanggal 28 April--hari kematian Chairil Anwar--sebagai Hari Sastra. Pada pertengahan tahun yang sama, seorang tokoh Lembaga Kebudayaan Rakyat yang bernaung di bawah Partai Komunis Indonesia memuji keberanian pernyataan tersebut dan menyatakan bahwa pokoknya sesuai dengan sikap lembaganya yang tidak mengakui gagasan penyair yang diakui sebagai penyair terbesar ini.
Pada waktu
itu pula, Roeslan Abdoelgani masih seorang tokoh politik yang sangat berwibawa
menulis sebuah karangan, "Chairil Anwar Juga Milik Seluruh Bangsa
Indonesia'". Sangat terasa, nasib si "binatang jalang" ini
berada di tangan orang-orang politik. Pihak-pihak yang berebut kekuasaan ketika
itu tentu telah memilih penyair ini sebagai salah satu bahan taruhan
berdasarkan pertimbangan yang masak. Sudah sejak semula Chairil Anwar dinilai
sebagai penyair penting; dan antara lain berkat pandangan H.B. Jassin, ia
kemudian dianggap sebagai penyair terbesar setidaknya sesudah Perang Dunia II.
Dalam kedudukan demikian,sikapnya berkesenian tentu bisa berpengaruh terhadap
pandangan kesenian bangsa. Hal ini tentu tidak disukai golongan yang telah memiliki
pandangan kesenian yang tegas, yang berpandangan bahwa kegiatan kesenian
merupakan faktor sangat penting dalam serbuan politiknya. Pandangan politik
pada masa itu tampakny asulit sekali memisahkan Chairil Anwar dari
"penemu"-nya, H.B.Jassin, yang menolak faham realisme sosialis dan
menawarkan humanisme universal.
Sumber:
Kata Penutup Sapardi Djoko Damono pada buku Aku Ini Bintang Jalang - Charil Anwar, Pamusuk Eneste
Komentar
Posting Komentar