Kesuksesan Itu Berasal dari Mindset
TAHUKAH Anda bahwa Darwin dan Tolstoy sebelumnya dianggap sebagai anak-anak biasa? Bahwa Ben Hogan, salah seorang pemain golf terhebat sepanjang sejarah, sama sekali tidak bisa bermain golf ketika masih kanak-kanak? Bahwa fotografer Cindy Sherman, yang masuk daftar seniman terpenting abad ke 20, gagal menjalani kursus fotografi pertamanya? Bahwa Geraldine Page, salah seorang aktris terbaik, pernah dinasihati untuk berhenti karena dianggap tidak berbakat?
Banyak orang piawai pada zamannya pernah dianggap tidak memiliki masa depan oleh pakar. Jackson Pollock, Marcel Proust, Elvis Presley, Ray Charles, Lucille Ball, dan Charles Darwin, semuanya pernah dianggap hanya memiliki pontensi kecil untuk bidang-bidang yang mereka pilih.
Benyamin Barber, seorang sosiolog terkemuka, pernah berujar, "Saya tidak membagi dunia menjadi yang lemah dan yang kuat, atau sukses dan gagal. Saya membagi dunia menjadi pembelajar dan bukan-pembelajar.
Bayi mengembangkan keterampilannya setiap hari. Bukan hanya keterampilan biasa, melainkan juga tugas-tugas yang paling sulit sepanjang hidup, seperti belajar berjalan atau berbicara. Bayi tidak pernah menganggap upaya itu terlalu sulit atau tak berguna. Bayi tidak takut melakukan kesalahan atau merendahkan diri merek. Mereka berjalan, jatuh, dan bangkit lagi. Mereka pantang menyerah.
Michael Jordan
Michael Jordan juga bukan orang yang memiliki bakat alami. Dia seorang atlet yang berkerja paling keras, mungkin dalam sejarah olahraga.
Sudah diketahui umum bahwa Michael Jordan dikeluarkan dar tim bola basket sekolah. Dia tidak diterima oleh perguruan tinggi tempat ia ingin bermain (North Carolina State University). Dia tidak dipanggil oleh dua tim NBA pertama yang seharusnya memilihnya. Ketika kita melihatnya, kita memang melihatnya MICHAEL JORDAN. Tetapi, pada saat itu, dia hanyalah seorang Michael Jordan.
Ketika Jordan dikeluarkan dari tim bola basket, dia merasa hancur. Ibunya mengatakan, "Saya katakan dia harus kembali dann mendisiplinkan diri." Nah dia benar-benar mendengarnya. Dia terbiasa meninggalkan rumah pukul enam pagi untuk berlatih di depan sekolahm Di University of North Carolina, dia terus berusaha memperbaiki kelemahannya--permainan defensifnya, serta caranya memegang dan melemparkan bola. Pelatihnya tercengang dengan kemauannnya bekerja lebih keras dari pada siapa pun.
Suatu ketika, setelah tim tersebut kalah dalam pertandingan terakhir pada suatu musim pertandingan, Jordan pergi dan melatih lemparannya selama berjam-jam. Dia mempersiapkan diri untuk tahun berikutnya. Bahkan di puncak kesuksesannya dan kemasyhurannya--setelah dia menjadikan dirinya seorang genius olahraga--latihan berikutnya tetap melegenda. Mantan asisten pelatih Bulls, John Back menyebutnya seorang genius yang selalu ingin meningkatkan kegeniusannya.
Bagi Jordan, kesuksesan berasal dari pikiran. "Ketangguhan mental dan hati jauh lebih kuat daripada keunggulan-keunggulan fisik yang mungkin anda miliki." Ujarnya
Sumber:
Carol S. Dweck, PH.D - Mindset
Komentar
Posting Komentar